Assalamu’alaikum ya Akhi, ya Ukhti.
Salam diatas terasa merdu kala didendangkan oleh munsyid Opick saat iklan acara ramadhan di tipi.
Walhasil, ramadhan kali ini masih seperti yang dulu bila kita bercermin melalui dunia tabung kaca.
Namun, bukan ramadhan namanya kalau tidak menebar aroma syahdu dan khusu’. Ramadhan kali ini tetap terasa berbeda, setidaknya dalam perasaan saya selaku hamba yang merasakan dahsyatnya nikmat ramadhan.
Banyak hal yang perlu dibenahi sebelum ramadhan datang, namun dia keburu datang menjemut “kesepian” spiritual kita. Rumah-rumah hati ini belum sempat dibenahi, pakaian diri ini belum bersih dicuci, pekarangan rumah belum dihiasi lentera-lentera penerang jiwa.
Ramadhan bak datang lebih awal, menyapa si papa dilorong-lorong tol, ibu-ibu yang antri minyak tanah, bapak-bapak yang terkena phk, anak-anak yang kehilangan masa kecilnya, remaja yang kehilangan kemudaannya, petinggi yang kehilangan ketinggiannya.
Ramadhan, oh… Ramadhan kau hadir disaat yang paling tepat, disaat kami butuh suasana baru, diluar hiruk pikuk duniawiah, kami butuh suasana teduh, diluar kemarau lahir dan batin.
Duhai beruntungnya kita, masih bertemu bulan mulia.